https://www.youtube.com/watch?v=A1RqeCtqIt4
Kita semua menginginkan sesuatu yang besar: bahagia di dunia dan selamat di akhirat. Namun kita ingin meraihnya dengan cara yang sederhana. Pertanyaan Ibnu Qudamah kepada Nabi Muhammad SAW seolah mewakili keinginan itu semua. Beliau berkata, "Wahai Nabi, berikan satu nasihat yang sederhana agar aku bisa selalu mengingatnya dan mengamalkannya, demi kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat." Nabi pun menjawab singkat dan tegas: "Jangan marah, maka kamu akan mendapatkan surga."
Surga yang dimaksud Nabi bukan hanya surga di akhirat kelak. Orang yang tidak mudah marah pun akan merasakan "surga" dalam kehidupan dunia ini — berupa ketenangan, kedamaian, dan kebahagiaan batin. Sebaliknya, marah adalah sebab tersiksa, bukan hanya di akhirat, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian Harvard University terhadap 670 pria selama delapan tahun menunjukkan bahwa kebiasaan marah berdampak buruk secara fisik: mengganggu saluran pernapasan, kesehatan jantung, dan kesehatan mental. Merujuk pada hadis Nabi, marah juga mengganggu kesehatan spiritual kita, hingga bisa menggolongkan kita sebagai penghuni neraka kelak. Seneca, filsuf Stoicisme, bahkan menyebut amarah sebagai "wabah paling berbahaya dan paling mengerikan yang pernah ada di muka bumi."
Ketika Nabi berkata jangan marah, sejatinya beliau — yang rahmatan lil alamin — sedang berpesan penuh kasih: "Sayangi dirimu. Karena ketika kamu marah, kamu sedang mencelakakan dirimu sendiri, meski kamu tidak menyadarinya."
Namun wajar bila kita bertanya: bagaimana bisa tidak marah, sementara begitu banyak hal di luar diri kita yang memancing — berita di media, hujatan di media sosial, rekan kerja yang tidak becus, teman yang membully, hubungan dengan orang tua yang tidak baik, bahkan hal-hal kecil sekalipun? Jawaban Seneca tegas: marah itu tentang dirimu sendiri, bukan tentang orang lain. Kamu memang tidak bisa mengontrol apa yang terjadi di luar dirimu, tapi kamu sepenuhnya bisa mengontrol apa yang kamu pilih sebagai respons. Apakah kita mau marah atau tidak — itu sepenuhnya hak, pilihan, dan kedaulatan kita.
Lalu bagaimana caranya mengendalikan diri agar tidak marah? Kita bisa belajar dari timur ke barat, dari Nabi Muhammad SAW hingga Seneca.
Dalam riwayat Ibnu Abbas, Nabi bersabda: "Jika kamu terpicu untuk marah, maka diamlah." Diam bisa diikuti dengan menarik napas, berzikir, atau melakukan hal-hal positif lainnya. Sebabnya, sumber utama kemarahan adalah ketergesa-gesaan. Orang yang tergesa-gesa akan langsung meledak saat dipicu, dan beberapa saat setelahnya — detik, menit, bahkan tahun kemudian — pasti menyesal. Karena itu Nabi mengingatkan agar tidak tergesa-gesa, sebab marah yang muncul dari ketergesa-gesaan seringkali tidak penting, tidak bermanfaat, dan hanya memperkeruh keadaan.
Dalam riwayat Abu Dzar al-Ghifari, Nabi juga memberi petunjuk fisik: "Jika kamu ingin marah dalam keadaan berdiri, maka duduklah. Jika kamu ingin marah dalam keadaan duduk, maka berbaringlah." Nabi memberikan treatment pengendalian secara fisik, karena biasanya orang yang akan marah cenderung berdiri — maka lakukan sebaliknya untuk memutus momentum amarah itu.
Seneca menambahkan dimensi logika: "Kemarahanmu adalah sejenis kegilaan yang membuatmu mematok harga tinggi untuk sesuatu yang tidak berharga." Kita marah karena antrean diselak, kendaraan diserempet, hal-hal remeh yang sebenarnya tidak sebanding dengan harga yang kita bayar — ketidakbahagiaan di dunia dan ancaman di akhirat. Jika ada yang berargumen bahwa ia marah untuk hal-hal penting, maka pertanyaannya: adakah yang lebih penting dari kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat, yang "mata uangnya" justru adalah ketidakmarahan?
Dalam tradisi sufistik, orang yang mudah marah diumpamakan seperti genangan air atau sungai dangkal — lemparan kerikil kecil saja langsung berbunyi keras dan keruh. Sebaliknya, orang yang matang secara spiritual, emosional, dan rasional ibarat samudra yang luas dan dalam — berpuluh batu besar dilempar ke dalamnya pun tidak akan membuatnya keruh. Provokasi dan propaganda untuk memancing kemarahan adalah kerikil-kerikil itu. Orang yang hati dan pikirannya seluas samudra tidak akan terpancing. Sebaliknya, orang yang mudah marah berarti telah kalah — ia terpancing oleh tujuan orang lain.
Kemarahan juga sering muncul dari kebodohan atau kegagalan kita mencari tahu. Seseorang menyerobot antrean kita di apotek, dan kita marah — padahal mungkin ia melakukannya karena keluarganya butuh obat segera, bahkan demi keselamatan jiwa. Karena itu Allah SWT dalam surat Al-Hujurat ayat 12 memerintahkan sifat utama seorang muslim: husnudzon — berprasangka baik. Ketika ada yang memicu kita marah, berprasangka baiklah dahulu. Dan kalaupun ternyata orang itu memang bersalah, tetap husnudzon saja — karena ketika kita marah, yang rugi adalah diri kita sendiri. Ini murni tentang kita dengan diri kita sendiri.
Alasan ketiga mengapa orang marah adalah karena menganggap marah sebagai solusi. Padahal sejatinya marah tidak pernah menjadi solusi. Orang yang tidak melakukan sesuatu karena takut amarah kita, sejatinya tidak pernah sadar — ia hanya menahan diri selama takut, dan akan kembali ke perilaku buruknya begitu rasa takut itu hilang. Seneca berkata: "Tidak ada yang lebih buruk dari pertimbangan hukuman yang berbasis amarah." Socrates pun pernah berkata bahwa ia akan memberi sanksi kepada budaknya — tetapi nanti, setelah amarahnya reda. Umar ibn Khattab RA semasa menjadi khalifah berkata: "Aku khawatir dengan amarahku, karena ketika aku menegakkan hukuman atas dasar amarah, sudah pasti hukuman itu telah melenceng dari ketentuan Allah SWT."
Maka dari itu, tidak ada jalan lain kecuali selalu mengontrol amarah. Ketika marah, berupayalah agar ia tidak menguasai wajahmu. Jika belum bisa, upayakan agar tidak menguasai lisanmu hingga berkata kotor. Jika belum juga bisa, upayakan agar tidak menguasai tanganmu hingga berbuat kekerasan. Kontrol amarah itu secara bertahap, sedikit demi sedikit, sampai kita benar-benar menjadi pribadi yang tidak mudah marah — atau syukur-syukur, tidak pernah marah.
Mungkin ada yang bertanya: bukankah marah itu manusiawi? Jawabannya: tidak sepenuhnya. Allah SWT dalam surat Ali Imran ayat 134 menyebutkan bahwa seorang manusia yang baik tidak akan marah, dan ketika dipicu ia akan memaafkan bahkan bersedekah kepada orang yang membuatnya marah. Mengapa tidak cukup memaafkan saja? Karena memaafkan berarti kita berdamai dengan orang yang membuat kita marah. Sedangkan bersedekah kepadanya berarti kita berdamai dengan diri kita sendiri — dan menjadi pribadi yang berdaulat dalam kebaikan.
Percayalah pada sabda Nabi Muhammad SAW: "Jangan marah, maka kamu akan bahagia di dunia dan mendapatkan surga di akhirat."